Penulis | Supriyatin Soeprie Ketjil |
Edisi | 2 |
ISBN | 9 |
Penerbit | Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa |
Tahun Terbit | 2020 |
Katalog | Buku Cerita dan Komik |
Genre | Fiksi Ilmiah |
Kelompok Pembaca | Umum |
Kamu Hari kemudian dari tanah air kita terletak pada hari sekarang, hari sekarang itu adalah kamu. (Tjipto Mangoenkoesoemo, 1927) Untuk Anak-Anak yang Berbahagia Semuanya, apa kabar? Bapak Soekarno kerap melukiskan begini: “Ibumu Indonesia teramat cantik. Cantik langit dan buminya, cantik gunung dan rimbanya, cantik laut dan sungainya, cantik sawah dan ladangnya, cantik gurun dan padangnya. Ibumu Indonesia teramat baik, airnya yang kamu minum, nasinya yang kamu makan. Ibumu Indonesia teramat kaya. Ibumu Indonesia teramat kuat dan sentosa, dari dulu melahirkan banyak pujangga, pahlawan, dan pendekar.” Pada awal abad ke-20 ketika mimpi-mimpi indah untuk membangun bangsa, tekad dan semangat melupakan perbedaan. Para putra bangsa berjuang tanpa pamrih. Mereka lebih memikirkan hal yang lebih besar dan lebih mulia, yaitu bangsa yang merdeka. Mereka adalah generasi terbaik negeri ini yang membangkitkan jiwa bangsa. Aku menulis Pesan Damai Nasi Kembar ini secara kebetulan. Sewaktu sedang mengobrol dengan keponakanku yang duduk di kelas 4 sekolah dasar (SD), aku mendengar pertanyaannya seperti ini. “Halo, Paman Guru! Apakah aku boleh berteman dan bermain dengan Maria?” tanya keponakanku dengan wajah serius. “Lo, memangnya kenapa?” tanyaku tidak mengerti. “Dia ‘kan agamanya beda dengan kita,” jawab keponakanku. “Kata teman-temanku, kita tak boleh berteman dengan anak yang agamanya beda dengan kita.” Yang jelas, aku sangat terkejut dan khawatir dengan pertanyaan keponakanku yang baru duduk di kelas 4 SD itu